Bhisma Dewabhrata

Sumber Gambar : wayangprabu.com

Bhisma adalah sosok ksatria sejati dalam epos Mahabrata. Awal cerita Mahabrata ditandai dengan kisah kelahirannya, sedang dalam akhir cerita Bharatayuda ditandai dengan kisah kematiaanya. Selama masa hidupnya Bhisma tampil sebagai penjaga kerajaan Astina, sehingga walaupun sempat dipimpin oleh raja-raja yang tidak kompeten, Astina tetap menjadi suatu negara yang besar dan disegani oleh negara-negara lainnya.

Adalah Prabu Santanu yang jatuh hati kepada Dewi Gangga, seorang putri cantik yang ditemuinya di pinggir Sungai Gangga. Dewi Gangga sebenarnya seorang bidadari yang sedang menjalani hukuman dan di buang oleh para dewa ke mayapada. Untuk menebus kesalahannya Dewi Gangga bersedia melahirkan kembali delapan Wasu yang juga dalam masa hukuman dan ingin menjadi dewa. Caranya adalah dengan mengandung mereka satu per satu dan setelah lahir membuangnya ke Sungai Gangga. Dewi Gangga bersedia menerima pinangan Prabu Santanu dengan syarat bila suatu hari nanti dia berbuat sesuatu yang aneh, Prabu Santanu tidak boleh mempertanyakannya.

Prabu Santanu menyanggupi persyaratan tersebut dan memboyong Dewi Gangga ke Istana Astina Pura. Waktu pun berlalu. Prabu Santanu kemudian menjadi heran karena setiap kali Dewi Gangga mengandung, pada bulan masa kelahiran tiba-tiba kandungannya menghilang. Tetapi Prabu Santanu tidak berani mempertanyakannya karena teringat akan persyaratan yang telah ditetapkan oleh istrinya.


Sampai pada kandungan yang kedelapan, Prabu Santanu berhasil memergoki istrinya hendak membuang bayi yang baru dilahirkannya ke Sungai Gangga. Prabu Santanu pun marah dan merebut sang bayi dari ibunya. Kemudian Dewi Gangga pun menceritakan siapa dia dan kejadian yang sebenarnya. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan Prabu Santanu karena dianggap telah melanggar persyaratan. Prabu Santanu bersedih, tetapi di sisi lain dia merasa gembira karena kini dia mempunyai seorang anak. Anaknya itu kemudian diberi nama Dewabhrata. Dewabhrata merupakan reinkarnasi dari Wasu Dayu (dalam sebagian hikayat namanya Wasu Prabhata), pemimpin ketujuh wasu yang ditolong oleh ibunya.

Sebagai putra mahkota, Prabu Santanu mengirim Dewabhrata untuk berguru pada ksatria-ksatria dan resi-resi ternama untuk dididik ilmu ketatanegaraan, rohani, militer dan kanuragan. Di antara para gurunya adalah Resi Bhraspati. Resi Sukra, Resi Markandya, dan Resi Wasista. Dewabhrata pun tumbuh menjadi seorang lelaki yang sakti dan berilmu tinggi.

Sampai pada suatu hari, Prabu Santanu kembali terpikat oleh seorang putri yang ditemuinya di dekat Sungai Yamuna. Dia adalah Dewi Durgandini. Untuk menjadi suaminya, sang putri pun mengajukan persyaratan bahwa kelak anak-anaknya lah yang berhak untuk menjadi raja di Astina. Prabu Santanu pun menolak syarat ini, mengingat dia telah menetapkan bahwa Dewabhrata lah putra mahkota Astina. Tetapi setelah itu dia menjadi sakit karena selalu teringat akan sang putri.

Dewabhrata yang melihat kondisi ayahnya mempertanyakannya. Pada awalnya Prabu Santanu tidak mau menceritakan, tetapi setelah diselidiki, tahulah Dewabhrata dari kusir sang ayah penyebab sakitnya. Sebagai seorang anak yang berbakti Dewabhrata bersedia melepaskan mahkota kerajaan kepada adiknya nanti. Tetapi Prabu Santanu mengkhawatirkan akan terjadi pertentangan antara keturunan Dewabhrata dengan keturunan raja dan menimbulkan pertumpahan darah. Untuk meyakinkan ayahnya Dewabhrata pun bersumpah untuk tidak menikah selama hidupnya. Dewabhrata berangkat sendiri menemui Dasabala (ayah angkat Dewi Durgandini) untuk melamarkan ayahnya. Atas ketulusannya ini Prabu Santanu menganugrahi Dewabhrata suatu mantra yang dapat membuatnya memilih sendiri hari kematiaannya. Dan setelah itu Dewabhrata pun berganti nama menjadi Bhisma, yang berarti sumpah yang dahsyat. Suatu sumpah yang kelak akan disesali oleh Dewabhrata sendiri. Bukan karena harus hidup membujang, tapi karena justru keturunan Dewi Durgandini sendiri yang menyeret Astina pada suatu perang saudara yang besar, Bharatayuda.
Arjuna melawan Bisma
Sumber Gambar : rianadhivira.wordpress.com

Mengingat kesaktian dan senioritasnya, atas saran para sesepuh Kurawa seperti Krepa, Resi Dorna dan Patih Sangkuni, Suyudana menobatkan Resi Bhisma sebagai panglima perang dalam Bharatayuda. Walaupun sudah menjadi seorang begawan dan  berusia lanjut, Resi Bhisma tidak menolaknya, jiwa ksatria tidak pernah hilang dalam dirinya.

Selama dipimpin oleh Resi Bhisma, peperangan seperti berjalan di tempat. Resi Bhisma tidak berniat membunuh Pandawa, tetapi dia juga menjadi pelindung para Kurawa yang tidak bisa ditembus oleh pihak Pandawa. Resi Bhisma menolak Karna, satria Awangga, untuk menjadi senapati pendampingnya. Dia lebih senang didampingi oleh para jago tua, Resi Dorna dan Prabu Salya dari Mandaraka. Kedua orang tersebut mempunyai kesamaan dengannya. Resi Dorna adalah guru para Pandawa, dia sangat menyayangi Arjuna. Sementara Prabu Salya adalah uwak dari Nakula dan Sadewa putra Prabu Pandu dari Dewi Madrim, yang karena jebakan Suyudana – menantunya – dia menjadi berada di pihak Kurawa. Tidak ada yang tahu maksud Resi Bhisma dengan strateginya ini. Mungkin dia ingin membuat perang berlangsung berlarut-larut sehingga terpaksa menyeret kembali Pandawa dan Kurawa ke meja perundingan.

Batara Kresna, penasihat Pandawa kesal dengan keadaan ini. Dia tidak menginginkan perundingan lagi. Apalagi ketika dia melihat Arjuna yang juga tidak serius ketika menghadapi Resi Bhisma. Arjuna juga sangat menyayangi dan menghormati kakek buyutnya itu. Kresna yang menjadi kusir kereta perang Arjuna sempat mencabut senjata Cakra dan berniat membunuh langsung Resi Bhisma. Arjuna mencegahnya dengan meratap mengingatkan Kresna akan sumpahnya kepada Kurawa untuk tidak terjun ikut dalam perang Bharatayuda. Melihat kejadian ini Resi Bhisma tertawa penuh kepuasan.

Hari kedelapan, Resi Bhisma membunuh Arya Wratsangka dari Wirata, dan Prabu Salya membunuh kakaknya, Raden Utara. Melihat kedua adiknya gugur, sang kakak tertua, Resi Seta mengamuk dan mengejar Prabu Salya. Prabu Salya kewalahan menghadapi Resi Seta. Untunglah putranya, Burisrawa, yang mempunyai ilmu menghilang, menolongnya. Resi Seta pun kerepotan menghadapi lawan yang tak terlihat, sampai senja tiba mengakhiri pertempuran pada hari itu.

Hari berikutnya, Prabu Salya memilih untuk menghindari Resi Seta. Resi Seta pun menghadapi Resi Bhisma yang telah membunuh adiknya juga. Resi Bhisma kewalahan menghadapi Resi Seta yang kebal senjata. Resi Bhisma kehabisan anak panah dan harus menghadapi lawan yang berada satu generasi dengannya itu secara langsung. Pada satu kesempatan Resi Seta berhasil melemparkan Resi Bhisma sehingga keluar jauh dari medan pertempuran. Ketika hendak memburunya, Burisrawa kembali menghadang Resi Seta, dan memberi waktu Resi Bhisma untuk memulihkan tenaganya.

Setelah terlempar dari medan pertempuran, Resi Bhisma tidak segera kembali ke medan laga. Dia memilih beristirahat memulihkan tenaganya. Lagi pula Resi Seta pasti akan mendatanginya sendiri, pikirnya. Di lain tempat Resi Seta akhirnya berhasil mengalahkan Burisrawa. Dengan berpura-pura mati oleh panah lawannya, Resi Seta yakin lawannya akan menampakkan diri demi mendapatkan pujian. Perkiraan Resi Seta benar, karena terdorong oleh rasa bangga, mengira Resi Seta telah mati, Burisrawa mendekati Resi Seta dan menampakkan dirinya agar terlihat oleh semua orang siapa yang telah membunuh Satria Wirata itu. Pada saat itulah Resi Seta bangun memukul Burisrawa dengan Aji Narantaka. Burisrawa pun mati seketika.

Sumber Gambar: Putragiriharja3.blogspot.com

Malam harinya, Kresna yang sudah kehabisan akal mengajak Arjuna mengunjungi tenda Resi Bhisma. Berkat Aji Halimunan yang dimiliki oleh Arjuna, keduanya berhasil memasuki tenda Resi Bhisma tanpa diketahui oleh para pengawal Kurawa (tidak seperti Burisrawa, sebagai seorang ksatria sejati, Arjuna tidak menggunakan ajiannya ini pada saat berperang). Kresna membujuk Resi Bhisma untuk menunjukkan kelemahannya. Resi Bhisma tersenyum. Menunjukkan kelemahannya berarti sama saja memintanya untuk mengalah. Tetapi Resi Bhisma menyadari di tangan Pandawa dan penerusnya, Astina akan mendapatkan kejayaan. Resi Bhisma tidak melihat Laksmandarakomara, anaknya Suyudana, sebagai seorang yang cakap untuk menjadi raja. Resi Bhisma juga menyadari bahwa dia lah yang menjadi hambatan besar bagi Pandawa untuk meraih kemenangan. Selain itu Resi Bhisma terpengaruh oleh pernyataan Kresna yang menyatakan selama ini dirinya telah bertindak tidak adil dengan menjadi pelindung Kurawa dan melalaikan Pandawa. Resi Bhisma dinilai tidak bertindak sama sekali saat Pandawa terusir dari negerinya, juga saat Dewi Drupadi, istri Yudistira mendapat penghinaan dari orang-orang Kurawa. Resi Bhisma berdalih bahwa dia selama ini tinggal di padepokannya yang berada jauh dari Astina Pura. Tetapi dalam hatinya Resi mengakui bahwa dia telah menelantarkan para Pandawa. Akhrinya Resi Bhisma memberi petunjuk bahwa dia pantang menyerang seorang wanita, maka tampilkan lah seorang wanita untuk melawannya dan menjadi perisai bagi Arjuna.

Esok harinya, hari kesepuluh Bharatayuda, Kresna menampilkan Srikandi, istri Arjuna, untuk mendampingi suaminya menghadapi Resi Bhisma. Pertimbangannya adalah Srikandi sangat mahir menggunakan panah. Ketika melihat Srikandi, Resi Bhisma terkesiap. Srikandi adalah titisan Dewi Amba dan di  mata Resi Bhisma yang terlihat adalah Dewi Amba seutuhnya. Pada saat memberitahu Kresna dan Arjuna akan kelemahannya, Resi Bhisma tidak menyangka bahwa yang akan tampil adalah seorang titisan Dewi Amba. Resi Bhisma tertegun, dia tidak mengangkat busurnya sama sekali. Kresna melihat ini sebagai suatu kesempatan, dia menyuruh Arjuna dan Srikandi untuk segera menyerang. Resi Bhisma tidak membalas juga tidak menghindari panah-panah yang berdatangan ke tubuhnya. Alhasil, tubuh Resi Bhisma pun dipenuhi oleh anak panah dan akhirnya sang maharesi pun roboh ke tanah. Tubuhnya tidak menyentuh tanah karena tersangga oleh panah-panah yang menancap, hanya kepalanya yang tidak terkena anak panah, menjuntai. Melihat Resi Bhisma roboh, peperangan mendadak terhenti. Arjuna melompat dari keretanya dan dengan menangis menghampiri Resi Bhisma.

Sumber Gambar : 4shared.com.

Resi Bhisma tidak segera mati. Dia mempunyai kesaktian untuk menentukan hari matinya. Pandawa, Kurawa serta para pini sepuh mendatangi Resi Bhisma. Resi Bhisma berkata bahwa dia butuh bantal untuk menyangga kepalanya. Suyudana segera menyuruh para Kurawa mengambil bantal yang empuk dan indah. Tapi Resi Bhisma menolaknya seraya memanggil Arjuna. Arjuna mengerti maksudnya, dia segera melepaskan tiga buah anak panah yang menancap di tanah sedemikian rupa yang membentuk penyangga kepala Resi Bhisma. Kemudian Resi Bhisma meminta minum. Suyudana segera menyuruh para Kurawa menyediakan minuman buah-buahan yang lezat. Resi Bhisma kembali menolaknya dan meminta Arjuna menyediakan minuman baginya. Arjuna mengambil satu anak panah lagi dan dengan mantranya panah itu dilepas ke tanah yang dari tempatnya menancap muncullah semburan air yang menyiram muka Resi Bhisma. Setelah terpuaskan dahaganya, semburan air itu pun berhenti.

Resi Bhisma berkata bahwa dia ingin menyaksikan Bharatayuda sampai akhir. Medan pertempuran pun digeser agar tidak mengganggu Resi Bhisma. Bharatayuda dilanjutkan.

Hanya delapan hari setelah kekalahan Resi Bhisma, Bharatayuda usai. Pandawa muncul sebagai pemenangnya. Pandawa kembali mengunjungi Resi Bhisma, bersama ibu mereka, Dewi Kunti Nalibrata, Sri Kresna dan Prabu Baladewa. Sebelum meninggal Resi Bhisma berpesan kepada Yudistira untuk tidak mengesampingkan kepentingan negara demi kepentingan lainnya. Bahkan meskipun itu demi kepentingan suatu sumpah yang suci.

Demikianlah cerita Resi Bhisma Dewabhrata, orang yang paling dihormati dalam epos Mahabrata. Resi Bhisma adalah seorang tipe lelaki yang lurus, dia cakap, tangguh, disiplin, jujur, penuh tanggung jawab, bijaksana dan berdedikasi tinggi. Walaupun tidak pernah menjadi raja, dia adalah seorang pemimpin. Diantara sekitan banyak ksatria keturunan Kuru dia lah putra terbaiknya.